Friday, June 24, 2016
Sejarah Gunung Namak dan Bukit Muntai Kabupaten Bangka Selatan
Konon 950 Tahun sebelum Laksamana Ceng Ho melakukan ekspidisi (1405 – 1433) dan upacara makan durian untuk mengingat sahabatnya Laksamana Ali yang terdampar dipulau durian, telah hidup seorang muda-mudi dari sisa ekspidisi mimpi Raja Ali Mughoyat Syah dinegeri Arab. Ekspidisi mimpi adalah ekspidisi yang dilakukan dari sebuah mimpi sang raja, yaitu beliau melihat sebuah pulau subur makmur, hijau rindang dan penuh dengan teka-teki misteri. Belum pernah terjamah satu manusiapun kecuali penduduk pribumi yang punya kebiasaan makan daging mentah, dengan postur tubuh tinggi besar, kekar dan berjalan tegap. Ekspidisi mimpi dilakukan sebanyak tiga kali, yang pertama sebanyak 1 kapal dengan penumpang 20 orang, 9 pasang meninggal dimakan penduduk pribumi, kemudian yang satu pasang dengan sebunyi-sembunyi membuat perahu dari kayu gabus, lalu pulang kenegeri asal. Ekspidisi kedua dengan membawa dua kapal dengan jumlah penumpang 40 pasang, juga bernasib sama, namun untuk kali ini tersisa 4 pasang, dengan satu kapal kembali pulang kenegeri asal. Raja Ali Mughoyat Syah, panik tidak alang kepalang, karena tidak mampu menaklukkan pulau kosong tersebut. Untuk ekspidisi ketiga, sang raja tidak main-main, ia melakukan olah bathin bermunajat minta petunjuk pada penggenggam jiwa manusia agar dipilihkan pemimpin ekspidisi yang tangguh dan diberkahi. Akhirnya dalam perenungan dan olah bathin, tergambar sesosok pemuda tampan dengan gelar Pangeran Samudra dari India, dia akhirnya terpilih menjadi pemimpin ekspidisi ke tiga. Tidak tanggung-tanggung pada ekspidisi ke tiga, raja Ali Mughoyat Syah menyiapkan 20 kapal, masing-masing kapal diisi 100 orang dengan berbagai perlengkapan untuk bermukim, biji-bijian, aneka peralatan bercocok tanam dan lain-lain. Tumbal dan mantra-mantra untuk menetralkan pengaruh penduduk pribumi juga dilakukan, dan dipasang disetiap sudut pulau tersebut. Konon akhirnya pengaruh tumbal dan mantra yang dipersiapkan Pangeran Samudra mengguncang pulau kosong tersebut dan mengakibatkan beberapa gunung meletus, ombak meningkat tajam, angin kencang dan bahkan menimbulkan wabah penyakit yang tidak putus-putus, kecuali yang sudah membawa penawarnya. Disinilah akhir dari banyaknya penduduk pribumi meninggal dunia. Ternyata, Pangeran Samudra berhasil menaklukkan pulau indah tersebut, namun dibarengi dengan terbelah-belahnya pulau. Ada Swarna Dwipa (sekarang sumatra), ada Jawa Dwipa (pulau jawa), ada Sivang Dwipa (Bangka), ada Mala Dwipa (Malaysia). Sebuah kejadian peradaban yang sangat luar biasa. Sahabat-sahabat sakti Pangeran Samudra juga terdampar dan terpisah-pisah disetiap pulau yang terbelah. Di Swarna Dwipa (Sumatra) ada satu orang sakti yang tertinggal dengan sebuah kitab sakti dari India lalu dikenang oleh Pangeran Samudra dengan ditulisnya aksara Jawa sebanyak 20 huruf dan harokatnya. See more
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Sejarah Gunung Namak dan Bukit Muntai Kabupaten Bangka Selatan
Konon 950 Tahun sebelum Laksamana Ceng Ho melakukan ekspidisi (1405 – 1433) dan upacara makan durian untuk mengingat sahabatnya Laksamana A...
-
Konon 950 Tahun sebelum Laksamana Ceng Ho melakukan ekspidisi (1405 – 1433) dan upacara makan durian untuk mengingat sahabatnya Laksamana A...
No comments:
Post a Comment